MODUL 4
"Kontrol Akualkultur Ikan Lele"



1. Pendahuluan[Kembali]

 Akuakultur merupakan salah satu kegiatan strategis dalam sektor perikanan yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, peningkatan ekonomi masyarakat, serta penguatan ketahanan pangan nasional. Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap produk perikanan, budidaya air tawar menjadi alternatif yang mampu menyediakan pasokan ikan secara berkelanjutan. Salah satu komoditas yang menempati posisi penting dalam dunia akuakultur Indonesia adalah ikan lele .Ikan lele disukai karena memiliki kemampuan adaptasi tinggi, pertumbuhan cepat, ketahanan tubuh kuat, serta permintaan pasar yang stabil.

    Budidaya ikan lele berkembang baik pada berbagai skala, mulai dari kolam sederhana di pedesaan hingga sistem intensif berskala besar. Meskipun teknik pemeliharaannya relatif mudah, budidaya modern menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama pada pengendalian lingkungan dan kesehatan ikan. Fluktuasi kualitas air, perubahan cuaca, pemberian pakan yang tidak efisien, serta potensi timbulnya penyakit dapat mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Oleh karena itu, penerapan sistem kontrol akuakultur menjadi komponen penting untuk menciptakan proses budidaya yang stabil dan efisien.

    Kontrol akuakultur mencakup berbagai aspek pemantauan dan pengelolaan lingkungan budidaya. Salah satu perkembangan penting dalam bidang ini adalah penggunaan sensor otomatis untuk membantu mengawasi kondisi air dan faktor eksternal lainnya secara real time. Dalam budidaya lele, penggunaan sensor rain dan sensor water menjadi sangat relevan. Sensor rain berfungsi untuk mendeteksi keberadaan dan intensitas hujan yang dapat memengaruhi kualitas air pada kolam terbuka, seperti perubahan pH, suhu, maupun kejernihan air. Dengan adanya sensor ini, sistem dapat mengambil tindakan otomatis seperti menutup penutup kolam atau menyesuaikan pompa sirkulasi untuk menjaga stabilitas lingkungan.

    Sementara itu, sensor water digunakan untuk memantau ketinggian air, mendeteksi banjir atau kekurangan air, serta memastikan kondisi kolam tetap berada dalam batas optimal. Sensor ini memungkinkan sistem untuk mengaktifkan pompa pengisian atau pembuangan air secara otomatis sehingga kondisi kolam dapat tetap stabil tanpa perlu pengawasan manual terus-menerus. Kombinasi penggunaan kedua sensor tersebut membantu menjaga kualitas lingkungan budidaya tetap terkontrol, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi risiko kerugian akibat perubahan kondisi yang tiba-tiba.

    Dengan integrate-nya teknologi sensor dalam sistem kontrol akuakultur, budidaya ikan lele dapat dilakukan dengan lebih modern, terukur, dan berkelanjutan. Pemahaman yang komprehensif mengenai teknik budidaya, pengelolaan lingkungan, serta pemanfaatan perangkat sensor menjadi dasar penting dalam mengembangkan sistem produksi yang lebih optimal dan efisien.

2. Tujuan[Kembali]

  1. Memantau dan mengontrol ketinggian air kolam secara otomatis menggunakan sensor water agar lingkungan budidaya tetap stabil.
  2. Mendeteksi hujan melalui sensor rain untuk mencegah penurunan kualitas air akibat perubahan cuaca.
  3. Meningkatkan efisiensi dan keamanan budidaya ikan lele dengan sistem kontrol otomatis yang mengurangi risiko kerugian.

3. Alat dan Bahan [Kembali]

A. ALAT

1. Breadboard

Breadboard adalah papan percobaan yang digunakan untuk merangkai komponen elektronika tanpa perlu menyolder. Di dalamnya terdapat lubang-lubang yang sudah saling terhubung secara tertentu, sehingga komponen seperti resistor, LED, sensor, dan jumper dapat dipasang dan dilepas dengan mudah. Breadboard termasuk bahan/komponen pendukung dalam pembuatan rangkaian elektronik karena berfungsi sebagai tempat perakitan sementara saat pengujian atau percobaan rangkaian. 

2. Kotak Plastik



Kotak plastik di gunakan untuk mengusun rangkaian yang sudah selesai dibuat agar tetap rapi.dan di jadikan sebagai media kolam.

 3. Adapter 12 V
    


Adapter 12 adalah adaptor bertegangan 12 volt yang digunakan untuk menyalakan rangkaian elektronik dengan mengubah arus dari stop kontak menjadi tegangan rendah yang sesuai agar rangkaian dapat bekerja dengan aman.

B. BAHAN

1. Sensor water

Sensor water, atau sensor ketinggian air, adalah perangkat elektronik yang digunakan untuk mengukur dan memantau level air secara akurat. Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi ketinggian air dalam berbagai wadah seperti tangki, sungai, atau waduk, dan mengubah perubahan level air menjadi sinyal yang bisa dibaca atau digunakan oleh sistem kontrol.di sini sensor water bekerja saat saat sensor mendeteksi ketinggian air di bawah rata-rata maka sensor water akan megirimkan sinyal agar pompa dapat megalirkan air dari bak penampungan air ke kolam.

2. Sensor rain

Sensor rain (sensor hujan) adalah perangkat elektronik yang berfungsi mendeteksi curah hujan atau keberadaan air. Ketika sensor terkena air, sensor ini akan mengubah resistansi listriknya, dan berdasarkan perubahan tersebut, perangkat akan mengirimkan sinyal untuk menjalankan fungsi otomatis,saat sensor mendetersi hujan maka ia akan mengirim sinyal agar motor aktif dan dapat menarik atap untuk melindungi kolam dari air hujan .

3. Kabel Jumper (Male to Male dan Female to Male)


Jumper adalah kabel kecil atau penghubung tipis yang digunakan untuk menyambungkan dua titik pada rangkaian elektronik, terutama pada breadboard atau modul tertentu. Komponen ini berfungsi sebagai jalur penghantar sementara untuk menghubungkan sinyal, tegangan, atau ground tanpa perlu melakukan penyolderan. Dengan adanya jumper, pembuatan rangkaian menjadi lebih fleksibel dan mudah karena koneksi dapat diubah, dipindahkan, atau dilepas kapan saja sesuai kebutuhan percobaan atau perancangan.

1.Male to Male (laki-laki ke laki-laki)

Memiliki ujung logam pada kedua sisi. Dipakai untuk menghubungkan titik pada breadboard atau antara pin komponen.

2.Male to Female (laki-laki ke perempuan)
Satu sisi memiliki ujung logam, sisi lainnya memiliki lubang konektor. Cocok untuk menghubungkan pin perangkat ke header atau modul yang punya konektor lubang.

3.Female to Female (perempuan ke perempuan)

Kedua ujungnya berupa lubang konektor. Digunakan untuk menyambungkan dua pin perangkat atau modul yang keduanya memiliki pin menonjol.

4.Kabel jumper PCB
Kabel khusus yang digunakan untuk menghubungkan titik-titik pada papan PCB, biasanya berbentuk kawat tipis yang dapat disolder langsung untuk membuat jalur sambungan tambahan atau perbaikan.

4. Konverter DC to DC


Konverter DC to DC adalah rangkaian yang berfungsi mengubah tegangan DC dari satu level ke level lainnya, baik menaikkan tegangan (step-up), menurunkannya (step-down), atau melakukan keduanya sesuai kebutuhan. Komponen ini digunakan untuk menyesuaikan sumber daya agar sesuai dengan kebutuhan perangkat elektronik, misalnya menurunkan tegangan baterai 12 volt menjadi 5 volt untuk modul tertentu atau menaikkannya agar perangkat dapat bekerja dengan stabil.

5. Transistor BC547


Transistor BC547 adalah transistor tipe NPN yang umum digunakan sebagai penguat sinyal dan saklar dalam rangkaian elektronik. Transistor ini mampu bekerja pada arus kecil, memiliki gain cukup tinggi, dan cocok untuk aplikasi seperti penguat kecil, driver relay, rangkaian sensor, serta kontrol logika pada proyek berbasis mikrokontroler.

6. Operational Amplifier TL082

Operational Amplifier TL082 adalah IC penguat operasional yang menggunakan teknologi JFET pada bagian inputnya sehingga memiliki impedansi input sangat tinggi dan arus bias sangat kecil. Op-amp ini biasanya digunakan untuk rangkaian penguat sinyal, filter aktif, osilator, dan pengondisian sinyal sensor. TL082 memiliki dua penguat operasional dalam satu chip, bekerja dengan tingkat kebisingan rendah, dan mampu menangani sinyal berkecepatan tinggi sehingga cocok untuk aplikasi audio maupun instrumentasi.

7. Relay 10V


Relay adalah komponen listrik yang berfungsi sebagai saklar otomatis yang dikendalikan oleh arus listrik kecil. Ketika kumparan pada relay mendapat arus, kontak di dalamnya akan berubah posisi, sehingga dapat menyalakan atau mematikan perangkat dengan arus yang lebih besar. Komponen ini sering digunakan dalam rangkaian otomatisasi seperti sistem kontrol, keamanan, dan penggerak motor.

8. Resistor 220 Ohm

Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R). 

Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed Resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah.

Cara menghitung nilai resistor:

Tabel warna



Contoh :

Gelang ke 1 : Coklat = 1

Gelang ke 2 : Hitam = 0

Gelang ke 3 : Hijau   = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105

Gelang ke 4 : Perak  = Toleransi 10%

Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan spesifikasi

9. jek konektor

Jek konektor adalah penghubung antara kabel dan perangkat elektronik agar arus atau sinyal dapat berpindah dengan aman. Jek ini mempermudah proses pemasangan, pelepasan, serta penggantian komponen tanpa perlu menyolder ulang. Jek konektor digunakan pada berbagai rangkaian seperti sensor, motor, modul, dan adaptor untuk memastikan sambungan lebih rapi, kuat, dan mudah dipelihara.

10.pompa air

Pompa air disini berfungsi untuk mensuplai air ke dalam kolam dari bak penampungan air , jika sensor water  mendeteksi kekurangan air pada kolam .

11. Motor DC 5V


Motor DC pada sistem kontrol akuakultur berfungsi sebagai penggerak mekanis untuk menarik atap secara otomatis ketika sensor hujan (rain sensor) mendeteksi air. Saat sensor mendeteksi hujan, sinyal dikirim ke mikrokontroler, kemudian motor DC diberi tegangan untuk berputar dan menggerakkan mekanisme atap ke posisi terbuka atau terangkat. Dengan begitu, area akuakultur tetap terlindungi dari hujan dan proses operasional berjalan lebih stabil.

12.Potensiometer

   Potensiometer (POT) adalah salah satu jenis Resistor yang Nilai Resistansinya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan Rangkaian Elektronika ataupun kebutuhan pemakainya. Potensiometer merupakan Keluarga Resistor yang tergolong dalam Kategori Variable Resistor. Secara struktur, Potensiometer terdiri dari 3 kaki Terminal dengan sebuah shaft atau tuas yang berfungsi sebagai pengaturnya.

4. Dasar Teori [Kembali]

A.Sensor Rain 

Sensor hujan umumnya bekerja berdasarkan perubahan hambatan listrik pada permukaan sensor. Ketika permukaan sensor dalam keadaan kering, nilai hambatan (R) menjadi sangat tinggi sehingga arus yang mengalir sangat kecil, dan kondisi ini terbaca sebagai “tidak hujan”. Sebaliknya, ketika permukaan sensor basah akibat adanya tetesan air, jalur-jalur konduktor yang terdapat pada papan sensor terhubung oleh air sehingga hambatannya menurun dan arus yang mengalir meningkat. Perubahan arus ini menjadi dasar bagi sensor untuk mendeteksi kondisi “hujan”. Mekanisme tersebut mengikuti prinsip konduktivitas air dan hukum Ohm, yang dinyatakan dalam persamaan I=VRI = \frac{V}{R}, di mana arus berbanding terbalik dengan hambatan.

Karakteristik Sensor Rain:

  • Menggunakan prinsip konduktivitas: resistansi turun saat basah.
  • Output analog (A0) dan digital (D0) dari modul LM393.
  • Sensitivitas dapat diatur melalui potensiometer.
  • Respon cepat terhadap tetesan air.
  • Nilai analog menurun seiring bertambahnya air pada permukaan sensor.
  • Bentuk papan lebar dengan jalur konduktor tembaga.
  • Bekerja pada tegangan 3.3–5V.
  • Rentan korosi jika digunakan outdoor tanpa pelapis.
  • Cocok untuk mendeteksi hujan, kebocoran, dan kelembapan permukaan.

Spesifikasi Sensor Rain HL-83 :

       ·       Tegangan kerja: 3.3V – 5V
·         Arus kerja: ± 20 mA
·         Output: Analog (A0) & Digital (D0) via modul LM393
·         Modul kontrol: Comparator LM393
·         Ukuran papan sensor: ± 5 cm × 4 cm
·         Sensitivitas: Dapat diatur melalui potensiometer
·         Indikator: LED power & LED output (pada modul kontrol)
·         Material papan sensor: PCB dengan jalur konduktor tembaga
·         Jarak kabel: ± 20 cm (tergantung produ

B.Water Level Sensor 

    Secara umum, sensor water level bekerja dengan mendeteksi keberadaan air berdasarkan daya hantar listrik (konduktivitas). Air, terutama air yang mengandung mineral, dapat menghantarkan arus listrik. Ketika air menyentuh elektroda sensor, arus kecil akan mengalir di antara terminal sensor. Arus ini kemudian menghasilkan tegangan keluaran yang dapat diolah untuk menentukan posisi ketinggian air.

    Dalam sistem kontrol tangki air, sensor ini biasanya memiliki beberapa titik deteksi (low, medium, dan high).

  • Titik low mendeteksi jika air sudah berada di batas bawah, menandakan pompa harus dinyalakan.
  • Titik high mendeteksi jika air sudah mencapai batas atas, menandakan pompa harus dimatikan.
  • Tegangan dari masing-masing titik sensor dibandingkan dengan nilai referensi oleh op-amp. Ketika perbandingan menunjukkan bahwa air telah mencapai batas tertentu, op-amp akan mengaktifkan atau menonaktifkan 

Spesifikasi Sensor Water Level

  • Tegangan kerja 3,3–5 V DC.
  • Arus kerja sekitar 10–20 mA.
  • Keluaran berupa sinyal analog atau digital.
  • Rentang deteksi 0–40 mm atau lebih tergantung tipe.
  • Bahan tahan air dan korosi.
  • Suhu kerja 0–80°C.
  • Akurasi ±2–5 mm.
  • Memiliki tiga pin: VCC, GND, dan OUT.
  • Dapat digunakan dengan mikrokontroler seperti Arduino atau PLC.

Karakteristik Sensor Water Level

  • Mendeteksi dan mengukur ketinggian air dalam wadah atau tangki.
  • Bekerja berdasarkan perubahan konduktivitas, tekanan, atau jarak permukaan air.
  • Memiliki beberapa jenis seperti pelampung, ultrasonik, kapasitif, dan konduktif.
  • Menghasilkan sinyal analog atau digital untuk sistem kontrol.
  • Memiliki akurasi dan sensitivitas tinggi terhadap perubahan level air.
  • Terbuat dari bahan tahan air dan korosi.
  • Digunakan pada sistem otomatis seperti tangki air, inkubator, dan irigasi.


    C. Transistor BC547

    Transistor adalah sebuah komponen di dalam elektronika yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki. Masing-masing kaki disebut sebagai basis, kolektor, dan emitor.

  1. Emitor (E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
  2. Kolektor (C) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam transistor.
  3. Basis (B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari transistor melalui kolektor.

Transistor Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu Transistor NPN dan Transistor PNP. 

  1. Transistor NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
  2. Transistor PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.



Rumus :


Konfigurasi transistor bipolar :

Cara mengukur transistor bipolar

 

Karakteristik input:

    Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.

Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat.

Karakteristik output:

    Sebuah transistor memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital, transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu besar.

Gelombang I/O Transistor

D. OP-AMP

    Penguat operasional atau yang dikenal sebagai Op-Amp merupakan suatu rangkaian terintegrasi atau IC yang memiliki fungsi sebagai penguat sinyal, dengan beberapa konfigurasi. Secara ideal Op-Amp memiliki impedansi masukan dan penguatan yang tak berhingga serta impedansi keluaran sama dengan nol. Dalam prakteknya, Op-Amp memiliki impedansi masukan dan penguatan yang besar serta impedansi keluaran yang kecil.

Op-Amp memiliki beberapa karakteristik, di antaranya:

a. Penguat tegangan tak berhingga (AV = )

b. Impedansi input tak berhingga (rin = )

c. Impedansi output nol (ro = 0) d. Bandwidth tak berhingga (BW = )

d. Tegangan offset nol pada tegangan input (Eo = 0 untuk Ein = 0)

Rangkaian dasar Op-Amp


 

1. Detektor Non-Inverting

    Detektor non-inverting adalah rangkaian penguat operasional (op-amp) yang digunakan untuk mendeteksi dan memperkuat sinyal input tanpa membalik fasa sinyal tersebut. Artinya, polaritas sinyal keluaran tetap sama dengan sinyal masukan, tidak mengalami pembalikan seperti pada konfigurasi inverting.

    Dalam konfigurasi ini, sinyal masukan diberikan ke terminal non-inverting (+) op-amp, sedangkan terminal inverting (–) digunakan sebagai umpan balik (feedback). Rangkaian ini mampu memperkuat sinyal kecil menjadi lebih besar dengan gain positif, sehingga sering digunakan pada sensor, detektor sinyal, dan sistem penguat otomatis.


 

Gelombang Input dan Output


 

Fungsi Detektor Non Inverting:

       Detektor non-inverting berfungsi untuk memperkuat sinyal input tanpa mengubah polaritas atau fasa sinyal tersebut. Rangkaian ini digunakan untuk mendeteksi perubahan tegangan dari sensor atau sumber sinyal lain dengan cepat dan akurat. Karena memiliki impedansi input yang tinggi dan output yang searah dengan input, detektor non-inverting mampu menjaga kestabilan serta keaslian bentuk sinyal. Komponen ini banyak diterapkan dalam sistem sensor dan kontrol otomatis sebagai penguat deteksi yang mengaktifkan aktuator berdasarkan perubahan sinyal masukan.

Prinsip Kerja:

         Prinsip kerja detektor non-inverting adalah ketika sinyal input diberikan ke terminal non-inverting (+) pada op-amp, tegangan output akan mengikuti perubahan sinyal input tanpa membalik polaritasnya. Jika tegangan input melebihi tegangan referensi pada terminal inverting (–), maka output akan berubah ke tegangan maksimum positif, dan sebaliknya jika lebih rendah, output menjadi tegangan minimum (negatif). Proses ini memungkinkan detektor mengenali dan memperkuat perubahan sinyal input dengan cepat tanpa pembalikan fasa, sehingga sering digunakan dalam sistem pendeteksi level atau pembanding tegangan.

Kurva Karakteristik I/O

 2. Voltage Buffer

         Voltage buffer atau disebut juga unity gain buffer adalah rangkaian elektronika berbasis penguat operasional (op-amp) yang berfungsi untuk memisahkan dua tahap rangkaian tanpa memberikan penguatan tegangan (gain = 1). Rangkaian ini memiliki output yang mengikuti tegangan input secara identik tanpa perubahan fasa maupun besarannya, sehingga sering disebut sebagai pengikut tegangan atau voltage follower. Meskipun tidak memperbesar tegangan, voltage buffer sangat penting dalam sistem elektronika karena mampu menjaga tegangan sinyal tetap stabil ketika dihubungkan ke beban dengan impedansi rendah.

 

Gelombang Input dan Output


Fungsi Voltage Buffer:

       Fungsi utama voltage buffer adalah mengisolasi atau memisahkan rangkaian sumber sinyal dari rangkaian beban agar tidak saling mempengaruhi karakteristik satu sama lain. Dengan impedansi input yang sangat tinggi dan impedansi output yang rendah, voltage buffer membantu mencegah penurunan tegangan (loading effect) saat sinyal diterapkan pada beban besar, sehingga output tetap akurat dan stabil. Voltage buffer juga digunakan untuk menjaga kemurnian sinyal, mengurangi distorsi, dan memungkinkan sinyal lemah dari sensor atau rangkaian awal untuk diteruskan tanpa kehilangan daya ke tahap berikutnya.

Prinsip Kerja:

Prinsip kerja voltage buffer adalah dengan menghubungkan terminal output op-amp langsung ke terminal input inverting (−), sementara sinyal masukan diberikan ke terminal non-inverting (+). Konfigurasi ini menghasilkan penguatan unity (gain = 1) sehingga tegangan keluaran akan selalu mengikuti tegangan masukan secara tepat. Ketika beban terhubung ke output, arus yang diperlukan untuk menggerakkan beban dipasok oleh op-amp, bukan dari sumber sinyal, sehingga sumber tetap aman dan tidak mengalami penurunan tegangan. Dengan demikian, voltage buffer mampu menjaga kestabilan dan kualitas sinyal meskipun beban berubah atau memiliki impedansi rendah.

Kurva Karakteristik I/O



E. Resistor


Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R). 

Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed Resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah.

Cara menghitung nilai resistor:

Tabel warna




Contoh :

Gelang ke 1 : Coklat = 1

Gelang ke 2 : Hitam = 0

Gelang ke 3 : Hijau   = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105

Gelang ke 4 : Perak  = Toleransi 10%

Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 10^5 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi 10%.

 


 



 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini