MODUL 4
"Kontrol Akualkultur Ikan Lele"
1. Pendahuluan[Kembali]
Akuakultur merupakan salah satu kegiatan strategis dalam sektor perikanan yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, peningkatan ekonomi masyarakat, serta penguatan ketahanan pangan nasional. Seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap produk perikanan, budidaya air tawar menjadi alternatif yang mampu menyediakan pasokan ikan secara berkelanjutan. Salah satu komoditas yang menempati posisi penting dalam dunia akuakultur Indonesia adalah ikan lele .Ikan lele disukai karena memiliki kemampuan adaptasi tinggi, pertumbuhan cepat, ketahanan tubuh kuat, serta permintaan pasar yang stabil.
Budidaya ikan lele berkembang baik pada berbagai skala, mulai dari kolam sederhana di pedesaan hingga sistem intensif berskala besar. Meskipun teknik pemeliharaannya relatif mudah, budidaya modern menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama pada pengendalian lingkungan dan kesehatan ikan. Fluktuasi kualitas air, perubahan cuaca, pemberian pakan yang tidak efisien, serta potensi timbulnya penyakit dapat mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Oleh karena itu, penerapan sistem kontrol akuakultur menjadi komponen penting untuk menciptakan proses budidaya yang stabil dan efisien.
Kontrol akuakultur mencakup berbagai aspek pemantauan dan pengelolaan lingkungan budidaya. Salah satu perkembangan penting dalam bidang ini adalah penggunaan sensor otomatis untuk membantu mengawasi kondisi air dan faktor eksternal lainnya secara real time. Dalam budidaya lele, penggunaan sensor rain dan sensor water menjadi sangat relevan. Sensor rain berfungsi untuk mendeteksi keberadaan dan intensitas hujan yang dapat memengaruhi kualitas air pada kolam terbuka, seperti perubahan pH, suhu, maupun kejernihan air. Dengan adanya sensor ini, sistem dapat mengambil tindakan otomatis seperti menutup penutup kolam atau menyesuaikan pompa sirkulasi untuk menjaga stabilitas lingkungan.
Sementara itu, sensor water digunakan untuk memantau ketinggian air, mendeteksi banjir atau kekurangan air, serta memastikan kondisi kolam tetap berada dalam batas optimal. Sensor ini memungkinkan sistem untuk mengaktifkan pompa pengisian atau pembuangan air secara otomatis sehingga kondisi kolam dapat tetap stabil tanpa perlu pengawasan manual terus-menerus. Kombinasi penggunaan kedua sensor tersebut membantu menjaga kualitas lingkungan budidaya tetap terkontrol, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi risiko kerugian akibat perubahan kondisi yang tiba-tiba.
Dengan integrate-nya teknologi sensor dalam sistem kontrol akuakultur, budidaya ikan lele dapat dilakukan dengan lebih modern, terukur, dan berkelanjutan. Pemahaman yang komprehensif mengenai teknik budidaya, pengelolaan lingkungan, serta pemanfaatan perangkat sensor menjadi dasar penting dalam mengembangkan sistem produksi yang lebih optimal dan efisien.
2. Tujuan[Kembali]
- Memantau dan mengontrol ketinggian air kolam secara otomatis menggunakan sensor water agar lingkungan budidaya tetap stabil.
- Mendeteksi hujan melalui sensor rain untuk mencegah penurunan kualitas air akibat perubahan cuaca.
- Meningkatkan efisiensi dan keamanan budidaya ikan lele dengan sistem kontrol otomatis yang mengurangi risiko kerugian.
3. Alat dan Bahan [Kembali]
A. ALAT
1. Breadboard
Breadboard adalah papan percobaan yang digunakan untuk merangkai komponen elektronika tanpa perlu menyolder. Di dalamnya terdapat lubang-lubang yang sudah saling terhubung secara tertentu, sehingga komponen seperti resistor, LED, sensor, dan jumper dapat dipasang dan dilepas dengan mudah. Breadboard termasuk bahan/komponen pendukung dalam pembuatan rangkaian elektronik karena berfungsi sebagai tempat perakitan sementara saat pengujian atau percobaan rangkaian.
2. Kotak Plastik
Kotak plastik di gunakan untuk mengusun rangkaian yang sudah selesai dibuat agar tetap rapi.dan di jadikan sebagai media kolam.
3. Adapter 12 V
Adapter 12 adalah adaptor bertegangan 12 volt yang digunakan untuk menyalakan rangkaian elektronik dengan mengubah arus dari stop kontak menjadi tegangan rendah yang sesuai agar rangkaian dapat bekerja dengan aman.
B. BAHAN
1. Sensor water
Sensor water, atau sensor ketinggian air, adalah perangkat elektronik yang digunakan untuk mengukur dan memantau level air secara akurat. Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi ketinggian air dalam berbagai wadah seperti tangki, sungai, atau waduk, dan mengubah perubahan level air menjadi sinyal yang bisa dibaca atau digunakan oleh sistem kontrol.di sini sensor water bekerja saat saat sensor mendeteksi ketinggian air di bawah rata-rata maka sensor water akan megirimkan sinyal agar pompa dapat megalirkan air dari bak penampungan air ke kolam.
2. Sensor rain
Sensor rain (sensor hujan) adalah perangkat elektronik yang berfungsi mendeteksi curah hujan atau keberadaan air. Ketika sensor terkena air, sensor ini akan mengubah resistansi listriknya, dan berdasarkan perubahan tersebut, perangkat akan mengirimkan sinyal untuk menjalankan fungsi otomatis,saat sensor mendetersi hujan maka ia akan mengirim sinyal agar motor aktif dan dapat menarik atap untuk melindungi kolam dari air hujan .
3. Kabel Jumper (Male to Male dan Female to Male)
Jumper adalah kabel kecil atau penghubung tipis
yang digunakan untuk menyambungkan dua titik pada rangkaian elektronik,
terutama pada breadboard atau modul tertentu. Komponen ini berfungsi sebagai
jalur penghantar sementara untuk menghubungkan sinyal, tegangan, atau ground
tanpa perlu melakukan penyolderan. Dengan adanya jumper, pembuatan rangkaian
menjadi lebih fleksibel dan mudah karena koneksi dapat diubah, dipindahkan,
atau dilepas kapan saja sesuai kebutuhan percobaan atau perancangan.
1.Male to Male (laki-laki ke laki-laki)
2.Male to Female (laki-laki ke perempuan)
Satu sisi memiliki ujung logam, sisi lainnya memiliki lubang konektor. Cocok
untuk menghubungkan pin perangkat ke header atau modul yang punya konektor
lubang.
3.Female to Female (perempuan ke perempuan)
4.Kabel
jumper PCB
Kabel khusus yang digunakan untuk menghubungkan titik-titik pada papan PCB,
biasanya berbentuk kawat tipis yang dapat disolder langsung untuk membuat jalur
sambungan tambahan atau perbaikan.
4. Konverter DC to DC
Konverter DC to DC adalah rangkaian yang berfungsi mengubah tegangan DC dari satu level ke level lainnya, baik menaikkan tegangan (step-up), menurunkannya (step-down), atau melakukan keduanya sesuai kebutuhan. Komponen ini digunakan untuk menyesuaikan sumber daya agar sesuai dengan kebutuhan perangkat elektronik, misalnya menurunkan tegangan baterai 12 volt menjadi 5 volt untuk modul tertentu atau menaikkannya agar perangkat dapat bekerja dengan stabil.
5. Transistor BC547
Transistor BC547 adalah transistor tipe NPN yang umum digunakan sebagai penguat sinyal dan saklar dalam rangkaian elektronik. Transistor ini mampu bekerja pada arus kecil, memiliki gain cukup tinggi, dan cocok untuk aplikasi seperti penguat kecil, driver relay, rangkaian sensor, serta kontrol logika pada proyek berbasis mikrokontroler.
6. Operational Amplifier TL082
Operational Amplifier TL082 adalah IC penguat operasional yang menggunakan teknologi JFET pada bagian inputnya sehingga memiliki impedansi input sangat tinggi dan arus bias sangat kecil. Op-amp ini biasanya digunakan untuk rangkaian penguat sinyal, filter aktif, osilator, dan pengondisian sinyal sensor. TL082 memiliki dua penguat operasional dalam satu chip, bekerja dengan tingkat kebisingan rendah, dan mampu menangani sinyal berkecepatan tinggi sehingga cocok untuk aplikasi audio maupun instrumentasi.
7. Relay 10V
Relay adalah komponen listrik yang berfungsi sebagai saklar otomatis yang dikendalikan oleh arus listrik kecil. Ketika kumparan pada relay mendapat arus, kontak di dalamnya akan berubah posisi, sehingga dapat menyalakan atau mematikan perangkat dengan arus yang lebih besar. Komponen ini sering digunakan dalam rangkaian otomatisasi seperti sistem kontrol, keamanan, dan penggerak motor.
8. Resistor 220 Ohm
Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi
atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik
dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R).
Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed Resistor, dimana
merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang
diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan jenis
fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih
rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
Tabel warna
Contoh :
Gelang ke 1 : Coklat = 1
Gelang ke 2 : Hitam = 0
Gelang ke 3 : Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2;
atau kalikan 105
Gelang ke 4 : Perak = Toleransi 10%
Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm
dengan spesifikasi
9. jek konektor
Jek konektor adalah penghubung antara kabel dan perangkat elektronik agar arus atau sinyal dapat berpindah dengan aman. Jek ini mempermudah proses pemasangan, pelepasan, serta penggantian komponen tanpa perlu menyolder ulang. Jek konektor digunakan pada berbagai rangkaian seperti sensor, motor, modul, dan adaptor untuk memastikan sambungan lebih rapi, kuat, dan mudah dipelihara.
10.pompa air
Pompa air disini berfungsi untuk mensuplai air ke dalam kolam dari bak penampungan air , jika sensor water mendeteksi kekurangan air pada kolam .
11. Motor DC 5V
Motor DC pada sistem
kontrol akuakultur berfungsi sebagai penggerak mekanis untuk menarik atap
secara otomatis ketika sensor hujan (rain sensor) mendeteksi air.
Saat sensor mendeteksi hujan, sinyal dikirim ke mikrokontroler, kemudian motor
DC diberi tegangan untuk berputar dan menggerakkan mekanisme atap ke posisi
terbuka atau terangkat. Dengan begitu, area akuakultur tetap terlindungi dari
hujan dan proses operasional berjalan lebih stabil.
12.Potensiometer
Potensiometer (POT) adalah salah satu jenis Resistor yang Nilai Resistansinya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan Rangkaian Elektronika ataupun kebutuhan pemakainya. Potensiometer merupakan Keluarga Resistor yang tergolong dalam Kategori Variable Resistor. Secara struktur, Potensiometer terdiri dari 3 kaki Terminal dengan sebuah shaft atau tuas yang berfungsi sebagai pengaturnya.
4. Dasar Teori [Kembali]
A.Sensor Rain
Sensor hujan umumnya bekerja berdasarkan
perubahan hambatan listrik pada permukaan sensor. Ketika permukaan sensor dalam
keadaan kering, nilai hambatan (R) menjadi sangat tinggi sehingga arus yang
mengalir sangat kecil, dan kondisi ini terbaca sebagai “tidak hujan”.
Sebaliknya, ketika permukaan sensor basah akibat adanya tetesan air,
jalur-jalur konduktor yang terdapat pada papan sensor terhubung oleh air
sehingga hambatannya menurun dan arus yang mengalir meningkat. Perubahan arus
ini menjadi dasar bagi sensor untuk mendeteksi kondisi “hujan”. Mekanisme
tersebut mengikuti prinsip konduktivitas air dan hukum Ohm, yang dinyatakan
dalam persamaan , di mana arus berbanding terbalik dengan
hambatan.
Karakteristik Sensor Rain:
- Menggunakan prinsip konduktivitas:
resistansi turun saat basah.
- Output analog (A0) dan digital
(D0) dari modul LM393.
- Sensitivitas dapat diatur
melalui potensiometer.
- Respon cepat terhadap
tetesan air.
- Nilai analog menurun seiring
bertambahnya air pada permukaan sensor.
- Bentuk papan lebar dengan
jalur konduktor tembaga.
- Bekerja pada tegangan 3.3–5V.
- Rentan korosi jika digunakan
outdoor tanpa pelapis.
- Cocok untuk mendeteksi
hujan, kebocoran, dan kelembapan permukaan.
Spesifikasi
Sensor Rain HL-83 :
· Arus kerja: ± 20 mA
· Output: Analog (A0) & Digital (D0) via modul LM393
· Modul kontrol: Comparator LM393
· Ukuran papan sensor: ± 5 cm × 4 cm
· Sensitivitas: Dapat diatur melalui potensiometer
· Indikator: LED power & LED output (pada modul kontrol)
· Material papan sensor: PCB dengan jalur konduktor tembaga
· Jarak kabel: ± 20 cm (tergantung produ
B.Water Level Sensor
Secara umum, sensor water level bekerja dengan mendeteksi keberadaan air
berdasarkan daya hantar listrik (konduktivitas). Air, terutama air yang
mengandung mineral, dapat menghantarkan arus listrik. Ketika air menyentuh
elektroda sensor, arus kecil akan mengalir di antara terminal sensor. Arus ini
kemudian menghasilkan tegangan keluaran yang dapat diolah untuk menentukan
posisi ketinggian air.
Dalam sistem kontrol tangki air, sensor ini biasanya memiliki beberapa titik
deteksi (low, medium, dan high).
- Titik low
mendeteksi jika air sudah berada di batas bawah, menandakan pompa harus
dinyalakan.
- Titik
high mendeteksi jika air sudah mencapai batas atas, menandakan pompa harus
dimatikan.
- Tegangan
dari masing-masing titik sensor dibandingkan dengan nilai referensi oleh
op-amp. Ketika perbandingan menunjukkan bahwa air telah mencapai batas
tertentu, op-amp akan mengaktifkan atau menonaktifkan
Spesifikasi Sensor Water Level
- Tegangan
kerja 3,3–5 V DC.
- Arus
kerja sekitar 10–20 mA.
- Keluaran
berupa sinyal analog atau digital.
- Rentang
deteksi 0–40 mm atau lebih tergantung tipe.
- Bahan
tahan air dan korosi.
- Suhu
kerja 0–80°C.
- Akurasi
±2–5 mm.
- Memiliki
tiga pin: VCC, GND, dan OUT.
- Dapat
digunakan dengan mikrokontroler seperti Arduino atau PLC.
Karakteristik Sensor Water Level
- Mendeteksi
dan mengukur ketinggian air dalam wadah atau tangki.
- Bekerja
berdasarkan perubahan konduktivitas, tekanan, atau jarak permukaan air.
- Memiliki
beberapa jenis seperti pelampung, ultrasonik, kapasitif, dan konduktif.
- Menghasilkan
sinyal analog atau digital untuk sistem kontrol.
- Memiliki
akurasi dan sensitivitas tinggi terhadap perubahan level air.
- Terbuat
dari bahan tahan air dan korosi.
- Digunakan
pada sistem otomatis seperti tangki air, inkubator, dan irigasi.
C. Transistor BC547
Transistor adalah sebuah
komponen di dalam elektronika yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor
dan memiliki tiga buah kaki. Masing-masing kaki disebut sebagai basis,
kolektor, dan emitor.
- Emitor (E) memiliki fungsi
untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
- Kolektor (C) berperan
sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam transistor.
- Basis (B) berguna untuk
mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari transistor melalui
kolektor.
Transistor Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu
Transistor NPN dan Transistor PNP.
- Transistor NPN adalah
transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan
positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan
yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
- Transistor PNP adalah
transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan
negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan
yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.
Rumus
:
Konfigurasi transistor bipolar :
Cara
mengukur transistor bipolar
Karakteristik input:
Transistor adalah komponen aktif
yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah
transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan
daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor
memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara
kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang
saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan
emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.
Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat.
Karakteristik output:
Sebuah transistor memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital, transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu besar.
Gelombang I/O Transistor
D. OP-AMP
Penguat operasional atau yang dikenal sebagai Op-Amp merupakan suatu
rangkaian terintegrasi atau IC yang memiliki fungsi sebagai penguat sinyal,
dengan beberapa konfigurasi. Secara ideal Op-Amp memiliki impedansi masukan dan
penguatan yang tak berhingga serta impedansi keluaran sama dengan nol. Dalam
prakteknya, Op-Amp memiliki impedansi masukan dan penguatan yang besar serta
impedansi keluaran yang kecil.
Op-Amp memiliki
beberapa karakteristik, di antaranya:
a. Penguat
tegangan tak berhingga (AV = ∼)
b. Impedansi input
tak berhingga (rin = ∼)
c. Impedansi
output nol (ro = 0) d. Bandwidth tak berhingga (BW = ∼)
d. Tegangan offset
nol pada tegangan input (Eo = 0 untuk Ein = 0)
Rangkaian dasar
Op-Amp
1. Detektor
Non-Inverting
Detektor non-inverting adalah rangkaian penguat operasional
(op-amp) yang digunakan untuk mendeteksi dan memperkuat sinyal input tanpa
membalik fasa sinyal tersebut. Artinya, polaritas sinyal keluaran tetap sama
dengan sinyal masukan, tidak mengalami pembalikan seperti pada konfigurasi
inverting.
Dalam konfigurasi ini, sinyal masukan diberikan ke terminal non-inverting
(+) op-amp, sedangkan terminal inverting (–) digunakan sebagai umpan balik
(feedback). Rangkaian ini mampu memperkuat sinyal kecil menjadi lebih besar
dengan gain positif, sehingga sering digunakan pada sensor, detektor sinyal,
dan sistem penguat otomatis.
Gelombang Input
dan Output
Fungsi Detektor
Non Inverting:
Detektor non-inverting berfungsi untuk memperkuat sinyal input
tanpa mengubah polaritas atau fasa sinyal tersebut. Rangkaian ini digunakan
untuk mendeteksi perubahan tegangan dari sensor atau sumber sinyal lain dengan
cepat dan akurat. Karena memiliki impedansi input yang tinggi dan output yang
searah dengan input, detektor non-inverting mampu menjaga kestabilan serta
keaslian bentuk sinyal. Komponen ini banyak diterapkan dalam sistem sensor dan
kontrol otomatis sebagai penguat deteksi yang mengaktifkan aktuator berdasarkan
perubahan sinyal masukan.
Prinsip Kerja:
Prinsip kerja detektor non-inverting adalah ketika sinyal
input diberikan ke terminal non-inverting (+) pada op-amp, tegangan output akan
mengikuti perubahan sinyal input tanpa membalik polaritasnya. Jika tegangan
input melebihi tegangan referensi pada terminal inverting (–), maka output akan
berubah ke tegangan maksimum positif, dan sebaliknya jika lebih rendah, output
menjadi tegangan minimum (negatif). Proses ini memungkinkan detektor mengenali
dan memperkuat perubahan sinyal input dengan cepat tanpa pembalikan fasa,
sehingga sering digunakan dalam sistem pendeteksi level atau pembanding
tegangan.
Kurva
Karakteristik I/O
2.
Voltage Buffer
Voltage buffer atau disebut juga unity gain buffer adalah
rangkaian elektronika berbasis penguat operasional (op-amp) yang berfungsi
untuk memisahkan dua tahap rangkaian tanpa memberikan penguatan tegangan (gain
= 1). Rangkaian ini memiliki output yang mengikuti tegangan input secara
identik tanpa perubahan fasa maupun besarannya, sehingga sering disebut sebagai
pengikut tegangan atau voltage follower. Meskipun tidak memperbesar tegangan,
voltage buffer sangat penting dalam sistem elektronika karena mampu menjaga
tegangan sinyal tetap stabil ketika dihubungkan ke beban dengan impedansi
rendah.
Gelombang Input dan Output
Fungsi
Voltage Buffer:
Fungsi utama voltage buffer adalah mengisolasi atau memisahkan rangkaian sumber sinyal dari rangkaian beban agar tidak saling mempengaruhi karakteristik satu sama lain. Dengan impedansi input yang sangat tinggi dan impedansi output yang rendah, voltage buffer membantu mencegah penurunan tegangan (loading effect) saat sinyal diterapkan pada beban besar, sehingga output tetap akurat dan stabil. Voltage buffer juga digunakan untuk menjaga kemurnian sinyal, mengurangi distorsi, dan memungkinkan sinyal lemah dari sensor atau rangkaian awal untuk diteruskan tanpa kehilangan daya ke tahap berikutnya.
Prinsip Kerja:
Prinsip kerja voltage buffer adalah dengan menghubungkan terminal output op-amp langsung ke terminal input inverting (−), sementara sinyal masukan diberikan ke terminal non-inverting (+). Konfigurasi ini menghasilkan penguatan unity (gain = 1) sehingga tegangan keluaran akan selalu mengikuti tegangan masukan secara tepat. Ketika beban terhubung ke output, arus yang diperlukan untuk menggerakkan beban dipasok oleh op-amp, bukan dari sumber sinyal, sehingga sumber tetap aman dan tidak mengalami penurunan tegangan. Dengan demikian, voltage buffer mampu menjaga kestabilan dan kualitas sinyal meskipun beban berubah atau memiliki impedansi rendah.
Kurva Karakteristik I/O
E. Resistor
Resistor adalah
komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan
tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu
rangkaian Elektronika (V=I R).
Jenis Resistor
yang digunakan disini adalah Fixed Resistor, dimana merupakan resistor
dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan subtrat
isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan jenis fixed resistor
ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah.
Cara menghitung
nilai resistor:
Tabel warna
Contoh :
Gelang ke 1 :
Coklat = 1
Gelang ke 2 :
Hitam = 0
Gelang ke 3 :
Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 4 :
Perak = Toleransi 10%
Maka nilai
resistor tersebut adalah 10 * 10^5 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi
10%.
Komentar
Posting Komentar